Minggu, 21 April 2013

Cari dan temukan mereka...!!!



Orang-orang Baik
            “Semesta akan memberikan seperti apa yang kamu berikan” pepatah ini seakan menegaskan kembali bahwa dalam hidup memang terjadi hukum timbal balik atau sebab akibat. Saat pertama kali dinyatakan lulus di salah satu universitas negeri di ibu kota provinsi, ada secuil kecemasan yang menggerogoti bathin saya, namun hal itu tidak mampu mengalahkan gelora kesungguhan saya untuk tetap bisa melanjutkan studi. Di sini (di padang) saya tidak memiliki seorang pun family atau saudara yang tinggal/menetap di padang (kecuali family yang sama-sama mahasiswa). Dalam istilah minang dialek Dharmasraya “kok tajadi apo-apo, dakdo tompek mengadu di siko de” (kalau terjadi apa-apa, tidak ada tempat mengadu/tempat meminta bantuan di sini). Dan Padang “Negeri kami adalah Super Market Gempa” tutur Mendagri dalam sebuah berita televisi yang saya saksikan beberapa tahun lalu. Tapi semua kecemasan itu saya tepis untuk satu tujuan.
            Di sini, takdir membawa saya bertemu dengan orang-orang baik. Ia kenalkan saya dengan teman-teman yang baik, ia pilihkan saya untuk tinggal di dekat orang-orang baik, ibu kos yang baik yang selalu tersenyum meski terkadang uang kos saya sudah nunggak selama 4 bulan. Kakak kos yang baik, yang setiap kali ia memasak sambal saya tidak perlu cemas harus membeli dulu sambal untuk bisa makan, yang setiap kali mempunyai uang lebih mentraktir saya makan, mengajak jalan saat libur dan membagi pulsa jika pulsanya banyak, bahkan terkadang memberi saya uang jika dapat rezeki berlebih. Teman sekamar saya yang sering mengumpat atau menyerocos ketika membangunkan saya di saat subuh untuk antri mandi, kadang ia membawakan handuk saya supaya dapat antrian setelah dia selesai mandi. Selalu mengingatkan saya untuk mengerjakan tugas, dan dengan sabar meski mungkin terkadang tidak ikhlas menunggui saya selesai berbenah untuk berangkat kuliah. Dosen PA saya yang baik, dan masih banyak orang-orang baik yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu yang Allah kirimkan untuk membantu saya di sini. Allah memang tidak pernah meninggalkan kita, jika kita bersungguh-sungguh ia akan lebih bersungguh-sungguh untuk membantu kita. Untuk semua orang-orang baik yang telah membantu saya di sini, saya mungkin tidak bisa berjanji untuk bisa membalas semua kebaikan yang telah diberikan kepada saya, namun saya ingin bisa menjadi orang baik seperti kalian. Melalui tulisan ini saya mengucapkan ribuan terimakasih karena terkadang lisan terlupa mengucapkkannya.
Orang-orang baik, ya! Di tengah kejamnya kehidupan akhir zaman yang kata orang sulit sekali untuk bisa menemukan orang baik. Namun mereka masih ada, seperti mereka yang saya temukan di ibu kota provinsi yang kehidupannya sudah mulai kejam meski mungkin tidak sekejam ibu tiri dalam dongeng “Bawang Merah Bawang Putih” namun saya juga pernah merasakan kekejamannya saat awal tahun kuliah, waktu itu saya ke pasar raya membeli sesuatu untuk di bawa pulang kampung, karena akan merayakan Idul Adha bersama keluarga. Di pasar ketika asyik memilih buah, dompet saya lenyap di sambar tangan orang jahat. Betapa sedihnya saya saat itu, karena untuk ongkos angkot pulang saja saya harus membatalkan membeli buah yang uangnya sudah saya berikan kepada penjual. Karena memang tidak ada uang yang tersisa. Lagi-lagi saya diantarkan takdir bertemu dengan orang baik, ia yang meminjamkan saya ongkos untuk pulang kampung yang baru bisa saya bayar 2 minggu kemudian.
Tentang orang-orang baik, mungkin jumlahnya tidak banyak dibanding orang jahat. Tapi jika mereka (orang-orang baik) mampu bertahan di tengah banyaknya pengaruh orang jahat maka sejatinya itulah kemenangan yang tak ternilai harganya. Bertahan menjadi orang baik meski begitu banyak tekanan dari orang-orang jahat.
Saya menulis ini bukan berarti saya menganggap diri saya orang baik, menjadi orang baik tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun menjadi orang baik juga tidaklah sesulit membalikkan telapak kaki. Kita hanya perlu keseriusan dalam menekuninya. Mari kita berusaha untuk menjadi orang baik, karena setiap kita pasti membutuhkan orang lain dalam hidup ini. Baik itu langsung ataupun tidak langsung. Berinteraksi pun harus memilih mana orang yang baik dan tidak baik bagi kita. Jadi marilah memohon kepada Allah untuk selalu bersama orang yang baik dan dijauhkan dari orang yang jahat kepada kita. (Era Susanti)




Minggu, 14 April 2013

Jejak-jejak Mimpi



Mengukir Kembali Jejak Mimpi
“Kakak, kenapa tidak pernah menulis lagi?” beberapa hari yang lalu salah seorang junior saya bertanya. Dan saya menjawab “otak kakak lagi blank dek” meskipun saya tidak tahu apa arti kosakata “blank” tapi saya berani juga menggunakannya. Saya senang mendengar pertanyaan junior saya tersebut, secara tidak langsung dari pertanyaannya, saya temui makna tersirat bahwa ada yang menunggu dan mau membaca tulisan saya, meskipun dalam candaan seorang teman, tulisan saya adalah tulisan sampah. hmm, terimakasih dek Putri Oviolanda Irianto, pertanyaannya memotivasi kakak untuk kembali menulis! Dan sebenarnya mungkin saya tahu, itu hanya cara dia menghargai saya sebagai seniornya, bukan karena kualitas tulisan saya. hehe...
   Ya! Dua bulan terakhir bisa dikatakan saya vakum dari dunia kreativitas. Hari-hari saya lalui dengan kejenuhan, jenuh dengan tugas-tugas kuliah, jenuh dengan jadwal kuliah, jenuh dengan sedikit pekerjaan yang saya miliki, dan waktu luang saya habiskan hanya dengan menatap layar kaca, memikirkan masalah hidup tanpa mau berbuat dan mencari solusinya, bergelut dengan dunia maya tanpa ada makna, cengangas-cengingis dengan teman facebook, minimal 2x sehari up date status galau. Sungguh sebuah kebodohan yang luar biasa, hehe... Untung saja, junior saya tersebut menegur, membuat saya sedikit tersadar. Bahwa saya sudah menjadi orang yang merugi 2 bulan ini. Dan jika tak ingin berlanjut, saya harus bangkit. Ya!
Hari ini (selasa, 02 April 2013) pada jam perkuliahan, salah seorang dosen saya memutarkan sebuah Film motivasi yang berjudul “Jejak-jejak Mimpi”, film tersebut juga sudah pernah saya tonton waktu SMA dulu, diputarkan oleh salah seorang guru saya. Dan memang film itu mampu menyuntikkan inspirasi dan motivasi ke dalam diri saya. Film kisah nyata yang ditulis oleh seorang pemuda pesisir, menuliskan 100 mimpinya di atas kertas dan ditempelkan di dinding kamarnya. Dengan usaha dan keyakinan ia mampu mewujudkan semua mimpi-mimpinya tersebut. Hal serupa juga saya lakukan, dan Insyaallah beberapa mimpi yang saya tuliskan juga telah terwujud, diantaranya bisa mempublikasikan tulisan di media massa. Dan Alhamdulillah!
Berbicara tentang mimpi, saya ingat tulisan saya yang pertama kali dilirik Singgalang berjudul “Mimpikan, Khayalkan, Nyatakan!” tulisan itu juga membicarakan tentang mimpi-mimpi dan bagaimana kita seharusnya agar mimpi tersebut tidak sekedar menjadi bunga tidur atau catatan di atas kertas, tetapi ia hadir dalam kehidupan nyata kita. huuuffhhh... menyesal sekali rasanya 2 bulan ini hanyut oleh alunan kebodohan yang selalu mengemukakan alasan bahwa “saya sedang berada di titik kejenuhan, tak satu pun yang mampu saya pikirkan” ya, itu yang acapkali saya ucapkan ke beberapa orang terdekat saya.
padahal di awal tahun lalu, begitu banyak mimpi-mimpi yang saya tuliskan. Dan setiap mimpi itu saya tulis dengan kata “HARUS” karena tidak ingin ada alasan untuk mengabaikan mimpi-mimpi tersebut. Namun, 1/3 tahun ini sudah saya lalui tapi bisa diistilahkan baru 10% mimpi-mimpi tersebut saya usahakan. Saya bisa dikatakan jalan ditempat. Tapi sekarang saya tak ingin jalan di tempat lagi, saya ingin beranjak dari suatu tempat ke tempat lain. Tidak mau lagi terlena, karena saya punya punya mimpi dan janji kepada amak saya. Saya harus bangkit, saya harus berusaha, mengukir kembali jejak-jejak mimpi itu, dan tidak boleh mengecewakan amak saya, ia tlah letih, ia tlah banyak berkorban untuk hidup saya dan saya harus membahagiakan dia.
Come on guys, mari kita bangkit! Mengukir kembali jejak-jejak mimpi yang pernah kita rangkai. Jangan buat mereka, orang-orang yang mengharapkan kita terutama keluarga dan orang tua. Berikan yang terbaik buat mereka, karena mereka telah banyak berkorban dan memberikan yang terbaik untuk kita. jika tidak sekarang, mungkin kita akan terlambat. Akankah kita menjadi orang yang tidak tahu terimakasih? Insyaallah, tidak! Jangan seperti saya yang pernah mencoba berkilah dengan alasan “Jenuh”, jangan! (Era Susanti)

Selasa, 29 Januari 2013

Musim Penghujan (Rahmat dan Cobaan)



Dempung Darah Kami Saat Musim Hujan

“Penghujan hari sekarang, kadang rusuh pula hati dibuatnya, padahal hujan adalah rahmat. Di Padang, jika hari sudah hujan lebat, darah berdempung, bisa banjir besar atau paling tidak jalan tergenang”, kata pak Khairul Jasmi mengawali ceritanya tentang “Hujan” di wasit garis Singgalang akhir tahun lalu (11 November 2012). Saya tersenyum membacanya. Wasit garis adalah salah satu tulisan yang saya tunggu hadirnya setiap Minggu, setelah tulisan saya, hehe... saya suka membaca tulisan pak KJ, bahasanya sederhana, humoris, tapi syarat makna. Beliau adalah salah seorang penulis idola saya. Waktu novelnya “Lonceng Cinta Di Sekolah Guru” terbit maret tahun lalu, waktu itu saya juga mendapat tugas kuliah menganalisis Novel terbitan terbaru, ketika pergi mencari novel ke toko buku, mata saya juga tertuju pada Novelnya, tapi sayang harganya mahal, maklum. Karena memang diterbitkan oleh Penerbit ternama di Negeri ini. Setelah menghitung-hitung isi kantong, akhirnya saya mengurungkan niat saya untuk membelinya dan membeli novel yang lain saja. Namun saya cukup cerdik, tapi mungkin masih kalah oleh kancil dalam cerita fabel. Hehe... Saya membujuk teman saya untuk membelinya, dan akhirnya beliau mau, maka setelah ia selesai membacanya saya pun mengambil nomor antri pertama untuk meminjamnya, setelah membaca, novel tersebut saya resensi, dan Alhamdulillah diterbitkan pula. Hehe...
Sekarang juga musim hujan, berita tentang banjir hampir setiap hari mengisi surat kabar dan layar kaca. Bangunan, harta, bahkan nyawa tlah dihanyutkannya. Namun untung,  Masyarakat kita masih memiliki rasa kepedulian terhadap sesama, berbagai bantuan dan upaya telah dilakukan untuk membantu saudara kita yang terkena musibah tersebut. Bantuan moril dan materil telah diupayakan oleh berbagai pihak, baik Pemerintah/Swasta, Ormas, Ormawa maupun individu lainnya. Semoga musibah ini cepat berlalu dan saudara kita bisa tersenyum kembali menjalani hari-harinya. Menikmati hidup seperti biasanya, dan diberi kesabaran dan keikhlasan menerima semua cobaan ini. Meyakini bahwa ini rencana Allah, semua kan ada hikmahnya. Amin.
Selain “darah berdempung karena takut banjir atau jalan tergenangi air” seperti kata Pak KJ, saya juga punya cerita tentang musim hujan. Sudah seminggu ini, amak dan uni saya hanya di rumah berkumpul bersama kami (saya dan keponakan saya), biasanya subuh mereka sudah berangkat ke kebun untuk menyadap karet. Tapi tidak seminggu ini, mereka hanya di rumah, namun nampak dari raut wajahnya bahwa hatinya tidak tenang dan rusuh. Sambil berkata, “bekpo la mangko o, lundo nyan dapek motong li de. Aghi ujan tarui ye, ntah dapek ta idak era ko balek k padang suk li. Ongkos ye dapek suk lu jadi ye la.” (entah bagaimana lah, belum ada dapat menyadap. Hari hujan terus, ntah dapat, ntah tidak era ini pergi ke padang lagi. Ongkosnya saja dapat besok dulu, jadilah) Kata amak saya kepada makwo saya beberapa hari yang lalu.
Jika hari sudah musim penghujan di kampung saya, hanya mereka yang bekerja sebagai PNS, pedagang, pengusaha atau karyawan yang tidak berdempung darahnya. Selebihnya pasti mengalami kegalauan yang luar biasa. Karena sebagian besar mata pencarian penduduk di kampung saya adalah sebagai petani karet. Jika hari hujan, karet tidak bisa disadap. Jika tidak pergi menyadap, otomatis penghasilan tidak ada. Jika tidak ada penghasilan, bagaimana bisa melanjutkan hidup? Bagaimana bisa makan, bagaimana membayar tagihan listrik, bagaimana membayar uang sekolah/kuliah anak, bagaimana memenuhi kebutuhan hidup lainnya?
Dempung darah itu akan dirasakan sangat hebat oleh para orangtua yang anaknya kuliah di Negeri orang, sama seperti yang dirasakan oleh amak saya. bagaimana hendak mengirimi anaknya uang, jika uang tidak dikirim bagaimana anaknya bisa makan dan bertahan hidup di negeri orang? Jika anak ada di rumah bersama orangtua, tentu orangtuanya tidak akan terlalu risau, sebab jika orangtua makan anak pasti juga akan makan. Tapi jika anak jauh di Negeri orang, jika tidak ada uang. Tentu tidak akan makan. Dempung darah itu tidak hanya dirasakan oleh para orangtua, tetapi juga oleh anak. Jika kuliah di negeri orang, uang dibutuhkan tidak hanya untuk makan, tetapi segala sesuatunya butuh uang. Tugas kuliah menggunung untuk diprint, ongkos ke kampus, membeli peralatan mandi, dll. Kegalauan ini selalu kami rasakan setiap musim penghujan dengan beberapa teman saya yang orangtuanya juga bermata pencarian sebagai petani karet. Tapi jika masih ingin tetap melanjutkan kuliah, harus bertahan dan bersabar dengan keadaan ini. Sabar, ya! Untuk meraih kesuksesan memang banyak cobaan dan rintangan yang harus dilalui.
Begitu sedikit cerita saya tentang hujan, menyambung cerita pak KJ akhir tahun lalu. Saat musim hujan tlah tiba, darah kami (amak saya, saya, teman-teman saya dan para orangtuanya yang juga petani karet) berdempung semakin deras. Kami sangat cemas hanyut dan larut bersama hujan. Walau bagaimanapun hujan adalah Rahmat, dan kita harus mensyukuri Rahmat yang diberikan Allah. Jika saat ini hujan menggalaukan hidup kita, mungkin ia hadir sebagai cobaan, cobaan menguji kesabaran. Kesabaran yang apabila kita sanggup mempertahankannya akan berbuah manis. “Hujan akan selalu ada meski terkadang ia membuat kita resah dan takut” Kata pujangga yang saya copas di jejaring sosial. (Era Susanti)

Rabu, 16 Januari 2013



Selamatkan Bhineka Tunggal Ika
Kencangnya hembusan angin globalisasi dengan segala macam dampak yang ditimbulkan telah menerjang bangsa ini dengan intensitas begitu tinggi, sedikit banyak telah mempengaruhi perilaku masyarakat negeri ini ke arah tumbuhnya masyarakat kapitalis. Era pendidikan dan teknologi yang semakin maju saat ini menimbulkan dampak negatif pula khususnya bagi masyarakat. Eksisnya budaya impor yang mengusung beragam faham-faham ideologi dari luar itu, sedikit banyak telah mencuci otak penghuni bangsa ini, hingga membuat lunturnya semangat kebangsaan dan pemahaman ideologi bangsanya sendiri, dan tanpa sadar telah merubah pola pikir dan gaya hidup kearah kebarat-baratan yang notabene sebagai bagian dari masyarakat lebih modern. Terutama generasi muda yang menjadi menjadi tampuk perubahan tengah mengalami degadrasi moral, krisis karakter, dan memudarnya rasa cinta tanah air
Berbagai peristiwa atau kejadian sama-sama kita saksikan melalui media massa, TV maupun media cetak menunjukan betapa masyarakat kita dilanda degradasi jati diri. Seiring perjalanan waktu, moral bangsa terasa semakin amburadul dan memprihatinkan, huru-hara dan kesewenangan terjadi dimanan-mana, tata krama pun hilang, nyawa seperti tak ada harga, korupsi menjadi-jadi bahkan telah dilakukan terang-terangan dan berjamaah, (Taufik Ismail). Berbagai bentuk kerusuhan yang diikuti penjarahan, pembunuhan dan pemerkosaan terjadi di berbagai daerah. Selain dari itu keutuhan dan ketahanan bangsa pun terancam dengan terjadinya beberapa konflik di berbagai daerah seperti di Aceh, Maluku dan Papua.
Mahasiswa-mahasiswi yang berdemo dengan mengatas namakan rakyat tak jarang merusak fasilitas umum, membabi buta berteriak sekenanya namun lupa bila membawa nama rakyat. Fenomena lain, para pelajar tawuran adu ketangguhan satu sama lain seakan menjadi hobi baru yang begitu mengasyikkan. Masyarakat Indonesia seperti kehilangan prinsip dan nation dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, konsep Bhineka Tunggal Ika sudah mulai luntur dari jiwa-jiwa generasi saat ini.
Seandainya para pahlawan kita menyaksikan kondisi bangsa saat ini tentu mereka akan sangat sedih dan menyesal. Bangsa Indonesia yang merdeka dengan mengorbankan segenap harta, jiwa dan raga mereka harus menjadi bangsa yang tidak memiliki karakter, dan kehilangan prinsip kebangsaan.
Untuk menjawab semua fenomena ini, apakah yang harus kita lakukan? Tentunya sebagai pemuda dan mahasiswa yang diharapkan betul oleh bangsa, tidak sepantasnya hanya menjadi orang ketiga yang hanya bisa menyaksikan kengerian yang terjadi di negeri ini. Tidak bisa hanya berdiam diri saja, namun harus melakukan sesuatu tentunya. Kita hendaknya menemukan upaya-upaya yang dilakukan guna mengatasi degradasi moral dan krisis karakter khususnya yang dialami oleh generasi muda yang masa depan bangsa ini kelak berada di tangan kita.
Kita tidak harus menutup mata atas datangnya kebudayaan luar yang hadir  dan tumbuh di tengah-tengah masyarakat, namun dalam implementasinya itu perlu adanya pengkajian secara mendalam tentang baik dan buruknya, jangan asal mengadopsi saja. Karena itu akan menimbulkan efek yang cukup membahayakan bagi eksistensi kebudayaan dan jati diri bangsa kita sebagai bangsa timur yang mayoritas bergama Islam yang dulunya terkenal sebagai bangsa yang bermoral, bermartabat dan berbudaya.
Jangan sampai kita terpecah hanya karena ingin dianggap sebagai masyarakat modern. Mari antisipasi secara serius, intropeksi segala sesuatu yang salah. Mari bermetamorfosa, melestarikan dan mencintai budaya bangsa. Jangan biarkan Negara Kesatuan Republik Indonesia hancur karena masyarakatnya sendiri. selamatkan Bhineka Tunggal Ika, jangan biarkan ia lepas dari genggaman Garuda. (Era Susanti)

Kamis, 01 November 2012



Umpan Balik
Di pertemuan rapat rutin sebuah ORMAWA yang saya ikuti, kegaduhan sering tak terhindarkan. “tidak ada rapat dalam rapat” tegur pimpinan rapat. Kondisi hening sejenak, tapi tak lama kemudian gaduh kembali. Jika diminta untuk berbicara, tak seorangpun yang mau. Tapi saat pimpinan rapat berbicara, selalu terdengar bisik-bisik dan celoteh-celotehan kecil  di geruman pengurus ORMAWA tersebut. Pimpinan rapat semakin tak nyaman, ia pun diam sejenak. Kekecewaan nampak di raut wajahnya. Ini salah satu “tragedi” kecil komunikasi yang sering terjadi dalam kelompok.
Peristiwa serupa pasti sering kita alami atau kita saksikan di kehidupan sehari-hari. Di rumah misalnya, betapa banyak orangtua yang nyaris frustasi saat berkomunikasi dengan anak-anaknya. Gertakan dan ancaman tak lagi bertuah. “Anak-anak sekarang selalu membantah bila dinasehati”, keluh kakak saya, seorang ibu yang memiliki dua orang anak. Bahkan Presiden pun sampai marah, ketika berbicara di rapat kabinet, para Menteri justru asyik bercengkrama dengan sesamanya dan baru-baru ini di acara HUT BAYANGKARA ketika berkunjung ke salah satu sekolah yang akan mencetak para TENTARA Presiden kembali menegur beberapa calon TNI karena asyik berbicara dengan teman di sampingnya. Apa yang salah sebenarnya dengan semua ini?
Komunikasi adalah proses memberi dan menerima, mengirim dan menangkap, timbal balik. Kegaduhan dan “pembangkangan” adalah sinyal sebagai bentuk respon apa yang telah kita beri. Ini disebut umpan balik. Komunikator yang baik akan selalu sukses membaca umpan balik dan meresponnya dengan tepat. Kenapa orang mengantuk ketika kita berbicara? Mengapa orang acuh tak acuh terhadap kata-kata kita?
Kuncinya sejauh mana kita bisa membaca dan memaknai umpan balik. Kekacauan dan keributan bisa terjadi karena banyak hal, mungkin karena suasana ruangan yang tak nyaman, kondisi fisik yang tidak mendukung (capek dan lapar), atau karena kekakuan gaya, pemilihan kata yang baku, dan bisa jadi bahasa yang kita sampaikan sulit dimengerti. Dan komunikator yang bijak selalu menyalahkan dirinya sebelum menyalahkan orang lain. Jadi jika ada yang tidak beres, maka pastilah ada yang salah dengan kita.
Dengan melakolisir kesalahan pada kita, semua jadi tanggung jawab kita. Karena sejatinya suasana bisa diciptakan, bisa diusahakan, dan berbagai teknik bisa kita coba. Bahwa selalu ada gangguan itu benar adanya, kerena itu kita harus siap mengantisipasi segala bentuk keadaan. Kita bisa “memaksa” orang untuk mendengarkan, tapi bukan dengan gertakan atau instruksi. Ini juga merupakan salah satu kunci untuk menjadi orator yang baik, yakni merespon umpan balik dengan tepat.
Jika hidup ini sejatinya adalah proses komunikasi terus menerus, maka membaca dan merespon umpan balik memiliki dimensi yang sangat luas. Umpan balik adalah penanda, baik eksplisit maupun tidak yang ada disekitar kita. Ada alam dengan segala fenomenanya, ada dinamika sosial dengan segala gejalanya. Dari pengalaman bertahun-tahun, kita harus peka terhadap umpan balik yang diberikan oleh lingkungan kita.
Para pemimpin pun hendaknya sudah semestinya peka terhadap segala penanda sosial, lebih dari angka-angka laporan lemabaga resmi. Korupsi, pengangguran, kemiskinan, kriminalitas, kemacetan, tingginya angka kecalakaan, dan semakin maraknya penyakit sosial adalah umpan balik yang mendesak respon secepatnya secara tepat dan proporsional. Merespon dengan pencitraan bukan jawaban yang diharapkan. Negeri ini butuh bukti nyata, bukan janji belaka.
Sesungguhnya kecerdasan dan kepekaan membaca umpan balik adalah sebentuk kearifan hidup. Orang yang arif adalah mereka yang peka dengan segala penanda, kemudian menyikapinya dengan proporsional. Pemimpin yang arif adalah mereka yang selalu cermat menyimak suasana, cerdas membaca dan merspon umpan balik dan amanah terhadap yang dipimpinnya. Ini harapan besar kami bapak-ibu pemimpin Negeri yang terhormat. (Era Susanti)